Surviving Live (a la Khopuki)

April 8, 2007

Music From Heaven

Filed under: Ruwetnya oTaK... — khopuki @ 10:10 pm

Nulis perasaan di waktu apapun itu sangat berguna. We can always refer back to it from the future. So here’s a piece that I wrote and I turn to when I’m feeling unwind.

Music From Heaven

Music from heaven,
how I long to hear it,
just one more time…

Music from heaven,
a peace that’s far away,
unknown…

Faint calls from where I belong,
sweet voice in my thought,
and the dream of being home,
in my lonely quiet world….

Distant calls for weary souls,
sweet echoing through the hearts…
Rushing through the silent trees,
the angel’s midnight song…

Serenade beyond the sky,
harmony of thousands angels…
Without a word,
to my soul, it says come back home…

(and the angels were just singing: “come home, child, come home…”)

Yes I’ll come back home…

PS: this doesn’t mean that I want to die soon! (how could you even interpret it that way?!) To come home is to be with God, because where your heart is, it’s your home, get it? I want to return home, that means to be veryyyyyy close with God. And I can do that without dying hahahaha…

A Prayer in the Dark

Filed under: Ruwetnya oTaK... — khopuki @ 9:50 pm

Lately I’ve been feeling unwell inside and I’ve been acting like a sulk bag. It’s the assignments. It’s the chores. It’s just having no one who understands what I’m feeling. Don’t take me wrong. Many try to understand, but just can’t. I’m just… different. Some are too caring, I don’t wanna make them worry more. Maybe it’s wrong, but I feel I have to be strong!! You know that when you cry and release, you’ll feel better? Well, I just can’t. A part of me says it’s the time to cry. A part of me says it’s not the time to be a weenie. A part of me just say that I can go through it.

I just felt the body heat rises. The normal is 35.6-35.9 (I know it’s too low, chill) but I felt my body was starting to feel odd, and my eyes flickering hot and hotter, and I knew it was rising. 37, and 37.1 and I just stopped measuring. It has nothing to do with my gastric (who’s been really annoying lately). It’s in the head… and the heart. The only thing I’m grateful for right now is love. I’m greatly loved (you know who you are), and the one who loves me the most is always Him. It’s the only thing that keeps me in peace. Coz I make predictions and I worry when things are uncertain. I take cues and I deduct. And sometimes it just becomes too tiresome. And lately I’ve been bombarded by uncertain things. Why can’t the world be just like a book that I can read?

I guess it means that I have to put my trust in the Lord who died to save me, and who rose back and ascended to heaven to prepare my home for me. (yes, it’s Easter! but that’s not the reason I’m writing this) I remember the lilies, flowers that I was asked to research into by my mom to know what it looks like. We were making a drama script for church and dad was just too busy to focus on simple things like what flowers look like. So mom and I selected a song and it’s about the lilies. What is it about the lilies that make them appear in the songs about faith, about miracles?

Their seeds. Seriously. The seeds are often dormant for years and years, metres deep under the ground! No one knows how to make it grow, and scientists have been trying with no results. But they just grow miraculously, in the middle of the dry deserts. Only God knows how to make them grow. And I just felt a relief when I was thinking. You know, just conversing with myself and tried to feel God’s presence. And He put the lilies in my head. And how they grow. How He makes them grow. And I said to Him, God it’s me. I’m the seed, deep within my trials and errors, trying to grow and surface every problem that I meet. And You are my perfect Gardener. And so here it goes…

A Prayer in the Dark

Here I am, whispering to You
echoing the words to heaven above
A plea for rescue from the depth of my heart
from the abyss of my thought I trembly say

A prayer in the dark
like a seed trying to make its way up
through the darkness and all the heavy soil
burdened, I whisper a prayer in the dark

My heart’s weary and my soul’s restless
And I retreat to the safety of Your peace
eternal is the work of Your hands…
My Gardener, just take it from here
I’ve tried my best to break through but You know how hard it is
the weight of the world that push me down
So as I whisper please lift me from this abyss
and let me dwell within Your arms

A prayer in the dark
just like a seed, watered in tears
Someday I’ll surface and all will see
How beautiful Your hands had crafted my soul
But until I bloom, when the clouds shed darkness
hear my whisper in the dark…

I know You’re here with me tonight
It’s just that it’s dark and I fail to see You
I surrender to Your loving presence
and in Your love I dwell peacefully
Basked in Your serenity I close my eyes
I whisper a prayer within my heart
I know You hear even the slightest sigh of my soul

March 15, 2007

Bunga inipun tumbuh di ladang…

Filed under: Ruwetnya oTaK... — khopuki @ 12:11 am

Di depan rumah Bettina, ada kaya ladang kecil gitu. Kebun depan lah, cuma isinya rumput semua. Di pinggir-pinggirnya, ada beberapa rumpun mawar yang mekar cakep banget… Apalagi rumpun mawar putihnya. Kalo lagi berbunga semua, wuiihhh…

Tapi anehnya, yang narik perhatian gw itu bukan mawar yang bagus-bagus itu. Justru bunga-bunga kecil kuning yang tumbuh di sela-sela rumput pendek. Dibilang tinggi, ngga. Dibilang pendek, ngga juga. Ngga cukup besar buat diperhatiin, tapi toh itu ada di sana. Makanya pas ngeliat bunga itu, gw jadi inget peribahasa di komik yang pernah gw baca, bunga inipun ada di ladang… Waktu mau gw bikinin postnya di sini, gw pengen foto, cuma pagi-pagi gw males keluar hehehe, dingin… Gw pikir ntar aja pas pulang kuliah gw foto sebentar…

Ternyata, saat gw pulang di ladang gw udah ga ada bunga-bunga itu lagi! Hilang semua… Gw bingung banget, kenapa bisa hilang?

Setelah gw liat dengan lebih seksama lagi, semua bunga kuningnya berubah jadi dandelion! Dan kalo angin lewat, kadang ada bongkahan dandelion yang terbang, indah banget. Keliatannya kaya udah ga ada bunga lagi, tapi sebenernya kaya ladang bunga transparan, dan pokoknya ada keindahannya sendiri deh, dibanding mawar yang di pinggir itu. Satu ladang kecil, di sore hari dengan lighting alam yang keren banget, dengan dandelion yang terbang-terbang ditiup angin, kaya nari deh. Dan cuma gw sendiri yang ngerti keindahan itu, karena yang lain pas gw bilang ada dandelion, kaya bilang “Jelek ah! Bagusan mawarnya…”

Gw bikinin ceritanya ya…

Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Di ladang ini, banyak kuncup sepertiku, namun entah kenapa semuanya terlihat lebih bagus daripada diriku. Di kejauhan sana, terlihat sekelompok mawar yang berada di tempat yang lebih tinggi. Tak tersentuh, namun mencolok dengan segala keindahan dan keangkuhannya. Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh manusia sang empunya ladang. Ladang, dunia kecil miliknya.

Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Aku bukan mawar. Dan kadang ada saat-saat dimana aku berpikir lebih baik aku tak mekar. Sakit sekali, dan capai sekali. Banyak yang harus kukorbankan untuk mekar.

Tapi waktu berjalan terus, dan aku tau biar bagaimanapun aku akan mati kalau aku menolak mekar. Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Tapi aku ingin mekar. Karena aku hidup. Karena aku ada. Dan saat aku mekar, aku akan mekar sedemikian rupa. Aku akan mekar dengan indah. Walaupun tak ada yang melihatku, aku tetap akan mekar dengan indah.

Aku, bunga kuning kecil yang baru mekar. Dengan sepi menunggu embun pagi turun dengan lembutnya dari langit, selimuti hati yang sepi. Aku ingin mereguk semua kekuatan yang bisa kudapat. Dan aku akan berusaha untuk tumbuh lebih tinggi lagi, lebih dekat lagi ke matahari. Dan aku akan berusaha untuk tumbuh dengan indah, karena mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mekar. Aku, bunga kuning kecil yang baru mekar, tak terlihat oleh siapapun.

Ada lebah datang. Kupu-kupu datang. Dalam pengembaraan mereka yang panjang dan jauh, tiba-tiba mereka sadar bahwa aku ada di sana. Letih, kutawarkan tempat berteduh. Kalau aku mau mekar dengan indah, aku harus kuat. Dan untuk diperhatikan, aku harus memperhatikan. Mungkin suatu saat, saat aku sudah cukup mencintai, akupun akan dilihat dan dicintai.

“Bunga kecil, baik perjuanganmu ini. Mekarlah dengan indah…”

Dan dalam sekejap mereka merombak susunan hatiku. Aku merasa, aku akan mekar dengan indah. Inilah waktuku. Sudah hampir tiba saatnya. Dengan anggun aku biarkan diriku menari ditiup angin, berubah, berubah, dan berubah… Membalut diriku sendiri dengan gaun putih, seputih bulan terang dalam malam-malamku.

Aku, bunga bulat berwarna putih. Aku semakin tak terlihat, namun percayalah aku masih ada di ladang, tumbuh menjadi lebih indah setiap hari. Dan akan ada saatnya angin bertiup, dan semua bagian hatiku yang mekar dengan pedihnya akan tertiup, menyebar ke seluruh ladang… Jatuh ke tempat-tempat yang mungkin bahkan tak pernah disadari.

Dan akan ada puluhan kuncup baru milikku. Saat waktunya mereka mekar, mereka akan mekar dengan indah. Dan menyebar lagi ke seluruh ladang milik sang manusia. Dan akan ada ratusan kuncup baru milikku. Ribuan. Jutaan…

Namun masih tak ada yang melihatku. Tak apa. Aku sudah sakit sebegitu rupa, sehingga tak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi yang harus kukorbankan. Aku mulai bahagia, hidup dan berkembang menjadi bunga kecil yang terindah, seindah yang aku bisa. Dan aku akan terus menghias ladang manusia, membuatnya bahagia tanpa dia sadar mengapa. Tak apa.

Karena akupun ada di ladang. Akupun hidup. Dan aku hanya ingin diriku tau aku indah. Akupun bisa mekar dengan indah, bukan untuk dilihat oleh manusia tapi karena aku bisa. Dan ladang manusia itu akan penuh oleh bunga-bunga dari serpihan hatiku…

Dan saat dia berjalan pulang ke rumahnya, dia akan melewati ladang ini. Mungkin dia akan merasa ladangnya indah tanpa tau kenapa. Tapi mungkin suatu hari, mungkin dia akan sadar aku ada. Bahwa aku, bunga inipun tumbuh di ladang. Dan bila saatnya aku mekar, aku akan mekar dengan indah, Tak peduli apakah dia akan membawaku pulang, merawatku dengan baik untuk membuat rumahnya indah dan cerah… atau apakah dia akan membiarkanku menghias ladangnya saja, melewati malam sambil menunggu embun menetes. Aku akan mekar.

Bunga inipun ada di ladang. Dan saat waktunya mekar, dia akan mekar dengan indah walaupun mungkin tak akan ada yang melihat. Bersyukurlah orang yang mengerti keindahan tarian dari serpihan-serpihan bunga dandelion kecil. Perlahan mengendarai angin, diterangi sinar lembayung senja… berusaha tumbuh dengan indah.

Meski untuk sejenak, kau sedang menikmati pertunjukkan terindah, di panggung yang paling indah. Membawa harapan dan impian, hari inipun bunga ini tumbuh di ladang. Bunga inipun tumbuh di ladang.

March 11, 2007

Manusia dan layangannya…

Filed under: Ruwetnya oTaK... — khopuki @ 10:48 pm

Well, maafkan kalo abis post-post yang mengocok perut itu, tiba-tiba postnya jadi mengocok otak (lhooo??)… Maafkan saya yang sering membuat cerita – cerita pendek yang ngga jelas hahahaha… Tapi bukan saya namanya kalo ngga bikin cerita-cerita pendek atau analogi yang ruwet dan aneh-aneh. Kali ini bertema tentang layangan. Ilhamnya? Waktu bengong di bus dan lihat langit cerah, angin pun di sini banyak. Kepikir layangan. Abis itu kepikir kayanya konotasinya bagus. Terus jadi napsu pengen bikin cerita tentang layangan dalam berbagai cuaca hehehe… Selamat membaca!

Bermain Layangan…

a man playing with his kite...

Ada langit biru yang luas, tempat indah bernama dunia… dan dalam langit itu berdiam satu layangan, menggantang angin sambil menari kecil.

Pada awalnya layangan itu terbang sendiri, menunggang angin ke segala arah… Tapi akhirnya ada manusia di bawah sana, dan seutas benang tipis tak sengaja terikat ke hati sang layang-layang. Manusia pun menemukan cara bermain layangan.

Layang-layang itu menerima, senang rasanya tau dia tak sendiri. Tapi dia lupa, terikat artinya dia tak lagi bisa bebas terbang seperti dulu.

Kadang manusia itu menarik benangnya, dan layangan itu perlahan melayang turun, menikmati saat-saat dia bisa memandang manusia, satu-satunya makhluk yang berhasil mengikatnya. Tapi lalu manusia itu mengulur benangnya, dan dia terhempas balik ke angkasa yang sekarang mulai terasa dingin dan sepi.

Semakin hari, angin berhembus semakin keras. Ingin rasanya menghampiri manusia itu untuk berlindung, tapi dia tak menarik benangnya. Layangan itu seakan terlupakan.

Pada hari-hari dimana ia sedang menikmati angin semilir, kadang manusia itu menarik benangnya, dan ia pun meninggalkan langit, turun menghampiri sang empunya benang. Terkadang pula, ada benang lain atau layangan lain yang menghampirinya. Tergesa, manusia itu juga menarik benangnya.

Manusia memegang kontrol, dan sang layangan mulai resah. Beban benang yang semula tak terasa, mulai menjadi berat. Manusia itu pun mulai kesusahan mengendalikan layangannya.

Mereka berdua tau, benang yang disebut perasaan itu bisa putus. Pada akhirnya, pilihan harus dibuat. Entah manusia itu yang terbang ke atas awan, berdua melayang di angkasa bersama… Atau manusia itu menarik dan menyimpan layangan itu dalam hidupnya… Atau dia harus melepas layangan itu pergi, terbang menjauh… Manusialah yang harus memutuskan.

Namun, pilihan itu susah sekali untuk dibuat. Di lain pihak, angin hidup bertiup keras dan pasir waktu terus mengalir. Betapapun keras layang-layang berusaha bertahan, benang itu makin menegang. Betapapun pandai manusia itu memainkan layangannya, hidup tak akan bisa dilawan. Dan untuk terbang, butuh keberanian yang amat sangat. Dalam hati, mereka berdua tau akan datang hari dimana benang itu koyak.

Maka begitulah, hujan pun turun dan terik berlalu. Matahari mulai bersinar dan kabut tersapu jauh. Layangan itu berusaha bertahan, terombang-ambing dan sakit, terkoyak sendiri. Manusia itu pun mulai awas, berusaha memainkan benang itu dengan benar, mengulur waktu sampai ia siap mengambil keputusan. Melepas susah rasanya, menarik pun bimbang.

Layangan mulai melihat ke bawah, ke arah manusia yang susah ia tebak. Layangan itu pun tau, mungkin dialah yang harus mengambil keputusan. Namun, untuk turun ke bawah itu tak mungkin kalau sang manusia tak menariknya.

Satu-satunya jalan adalah untuk menarik diri sekeras-kerasnya dengan harapan benang yang erat itu akan putus. Namun, layangan itu tau bahwa benang perasaan tak mungkin terlepas dengan mudah. Rasa sakit saat berusaha melepaskan diri tak akan mudah hilang. Kalau putus pun, sisa benang yang mengikat erat harus mengikuti pengembaraannya di langit yang luas itu. Kalau tak putus juga, hatinya lah yang akan terkoyak, meninggalkan luka yang tak mungkin bisa ditambal oleh pasir waktu.

Keputusan itu sulit untuk dibuat, baik oleh layangan maupun manusia. Mungkin karena benang itu memang susah untuk dilihat, hampir transparan. Tak bisa diramal juga kekuatannya. Mereka hanya tau dengan pasti, benang itu ada di sana.

Malam berlalu dan bintang mulai berganti posisi. Siang berlalu dan mentari melambai sekali lagi. Manusia masih bermain layangan, dan dalam diam ketegangan itu bertumbuh, disembunyikan dalam sudut kesadaran keduanya. Tarik, ulur, tarik, ulur, tarik, ulur. Pasir waktu mulai menumpuk tanpa suara, dan benang itu semakin lama semakin erat mengikat keduanya. Tapi dalam bingung layangan itu masih membiarkan dirinya terikat, dengan harapan manusia akan segera membuat keputusan. Mungkin suatu saat pasir waktu yang tertiup angin akan membuat benang itu menjadi jelas, dan keputusan bisa segera dibuat. Mungkin juga, permainan layangan itu takkan berakhir. Pasir waktu semakin menumpuk di kaki sang manusia, dan angin bertiup keras mengombang-ambingkan sang layangan… Walau ketegangan itu mulai susah disembunyikan, tapi manusia masih saja bermain layangan.

Kabut pun datang, dan segalanya menjadi tak jelas. Apakah sebenarnya benang itu masih ada di sana? Layangan dan manusia sudah tak bisa melihat satu sama lainnya. Mungkin sebenarnya mereka sudah terpisah, terpisah jauh sekali. Semua karena benang, yang bahkan tak diketahui dengan pasti bentuknya. Layangan tak tau apakah ada perih karena tarikan benang di tangan sang manusia. Manusia pun tak tau apakah ada perih karena ikatan benang di hati sang layangan.

Blog at WordPress.com.