Surviving Live (a la Khopuki)

March 11, 2007

Manusia dan layangannya…

Filed under: Ruwetnya oTaK... — khopuki @ 10:48 pm

Well, maafkan kalo abis post-post yang mengocok perut itu, tiba-tiba postnya jadi mengocok otak (lhooo??)… Maafkan saya yang sering membuat cerita – cerita pendek yang ngga jelas hahahaha… Tapi bukan saya namanya kalo ngga bikin cerita-cerita pendek atau analogi yang ruwet dan aneh-aneh. Kali ini bertema tentang layangan. Ilhamnya? Waktu bengong di bus dan lihat langit cerah, angin pun di sini banyak. Kepikir layangan. Abis itu kepikir kayanya konotasinya bagus. Terus jadi napsu pengen bikin cerita tentang layangan dalam berbagai cuaca hehehe… Selamat membaca!

Bermain Layangan…

a man playing with his kite...

Ada langit biru yang luas, tempat indah bernama dunia… dan dalam langit itu berdiam satu layangan, menggantang angin sambil menari kecil.

Pada awalnya layangan itu terbang sendiri, menunggang angin ke segala arah… Tapi akhirnya ada manusia di bawah sana, dan seutas benang tipis tak sengaja terikat ke hati sang layang-layang. Manusia pun menemukan cara bermain layangan.

Layang-layang itu menerima, senang rasanya tau dia tak sendiri. Tapi dia lupa, terikat artinya dia tak lagi bisa bebas terbang seperti dulu.

Kadang manusia itu menarik benangnya, dan layangan itu perlahan melayang turun, menikmati saat-saat dia bisa memandang manusia, satu-satunya makhluk yang berhasil mengikatnya. Tapi lalu manusia itu mengulur benangnya, dan dia terhempas balik ke angkasa yang sekarang mulai terasa dingin dan sepi.

Semakin hari, angin berhembus semakin keras. Ingin rasanya menghampiri manusia itu untuk berlindung, tapi dia tak menarik benangnya. Layangan itu seakan terlupakan.

Pada hari-hari dimana ia sedang menikmati angin semilir, kadang manusia itu menarik benangnya, dan ia pun meninggalkan langit, turun menghampiri sang empunya benang. Terkadang pula, ada benang lain atau layangan lain yang menghampirinya. Tergesa, manusia itu juga menarik benangnya.

Manusia memegang kontrol, dan sang layangan mulai resah. Beban benang yang semula tak terasa, mulai menjadi berat. Manusia itu pun mulai kesusahan mengendalikan layangannya.

Mereka berdua tau, benang yang disebut perasaan itu bisa putus. Pada akhirnya, pilihan harus dibuat. Entah manusia itu yang terbang ke atas awan, berdua melayang di angkasa bersama… Atau manusia itu menarik dan menyimpan layangan itu dalam hidupnya… Atau dia harus melepas layangan itu pergi, terbang menjauh… Manusialah yang harus memutuskan.

Namun, pilihan itu susah sekali untuk dibuat. Di lain pihak, angin hidup bertiup keras dan pasir waktu terus mengalir. Betapapun keras layang-layang berusaha bertahan, benang itu makin menegang. Betapapun pandai manusia itu memainkan layangannya, hidup tak akan bisa dilawan. Dan untuk terbang, butuh keberanian yang amat sangat. Dalam hati, mereka berdua tau akan datang hari dimana benang itu koyak.

Maka begitulah, hujan pun turun dan terik berlalu. Matahari mulai bersinar dan kabut tersapu jauh. Layangan itu berusaha bertahan, terombang-ambing dan sakit, terkoyak sendiri. Manusia itu pun mulai awas, berusaha memainkan benang itu dengan benar, mengulur waktu sampai ia siap mengambil keputusan. Melepas susah rasanya, menarik pun bimbang.

Layangan mulai melihat ke bawah, ke arah manusia yang susah ia tebak. Layangan itu pun tau, mungkin dialah yang harus mengambil keputusan. Namun, untuk turun ke bawah itu tak mungkin kalau sang manusia tak menariknya.

Satu-satunya jalan adalah untuk menarik diri sekeras-kerasnya dengan harapan benang yang erat itu akan putus. Namun, layangan itu tau bahwa benang perasaan tak mungkin terlepas dengan mudah. Rasa sakit saat berusaha melepaskan diri tak akan mudah hilang. Kalau putus pun, sisa benang yang mengikat erat harus mengikuti pengembaraannya di langit yang luas itu. Kalau tak putus juga, hatinya lah yang akan terkoyak, meninggalkan luka yang tak mungkin bisa ditambal oleh pasir waktu.

Keputusan itu sulit untuk dibuat, baik oleh layangan maupun manusia. Mungkin karena benang itu memang susah untuk dilihat, hampir transparan. Tak bisa diramal juga kekuatannya. Mereka hanya tau dengan pasti, benang itu ada di sana.

Malam berlalu dan bintang mulai berganti posisi. Siang berlalu dan mentari melambai sekali lagi. Manusia masih bermain layangan, dan dalam diam ketegangan itu bertumbuh, disembunyikan dalam sudut kesadaran keduanya. Tarik, ulur, tarik, ulur, tarik, ulur. Pasir waktu mulai menumpuk tanpa suara, dan benang itu semakin lama semakin erat mengikat keduanya. Tapi dalam bingung layangan itu masih membiarkan dirinya terikat, dengan harapan manusia akan segera membuat keputusan. Mungkin suatu saat pasir waktu yang tertiup angin akan membuat benang itu menjadi jelas, dan keputusan bisa segera dibuat. Mungkin juga, permainan layangan itu takkan berakhir. Pasir waktu semakin menumpuk di kaki sang manusia, dan angin bertiup keras mengombang-ambingkan sang layangan… Walau ketegangan itu mulai susah disembunyikan, tapi manusia masih saja bermain layangan.

Kabut pun datang, dan segalanya menjadi tak jelas. Apakah sebenarnya benang itu masih ada di sana? Layangan dan manusia sudah tak bisa melihat satu sama lainnya. Mungkin sebenarnya mereka sudah terpisah, terpisah jauh sekali. Semua karena benang, yang bahkan tak diketahui dengan pasti bentuknya. Layangan tak tau apakah ada perih karena tarikan benang di tangan sang manusia. Manusia pun tak tau apakah ada perih karena ikatan benang di hati sang layangan.

10 Comments »

  1. waww

    Comment by iceL — March 13, 2007 @ 12:29 am

  2. apa maksudnya tuh ya?

    Comment by khopuki — March 13, 2007 @ 9:09 am

  3. Langit berkabut tak selamanya berkabut. Suatu saat ia pasti cerah kembali. Saat kabut itu hilang mungkin tampak seorang manusia baru yg siap menanti layangan. meski benang lama tak bisa dilepaskan sepenuhnya, tapi niscaya manusia baru ini mau menyambungkan benang miliknya dg sisa benang yg menempel di layangan. Dan manusia itulah yg akan membantu layangan turun untuk kemudian disimpan di tmp yg teduh.

    Comment by NeLvin — March 14, 2007 @ 8:20 pm

  4. wah… ending yang penuh harapan!! buat si layangannya tapi tuh. Manusianya kesian sih, tapi ya gimana ya…

    Masalahnya, layangannya mau ngga ya diiket ke manusia yang baru? Moga2 aja ga trauma hahahahaha…

    (layangan koq dibahas…)

    Comment by khopuki — March 14, 2007 @ 8:28 pm

  5. loh kok gini se..
    ih oomm sok puitis*
    loh?

    Comment by iceL — March 14, 2007 @ 8:57 pm

  6. hahahahahahahaha

    tunggulah post berikutnya, “Bunga inipun tumbuh di ladang”

    Lho koq jadi iklan ya?

    GJ…

    Comment by khopuki — March 14, 2007 @ 9:32 pm

  7. wew….kata2na puitis n keren!!!huehuehueheu…tapi itu si gum samchan (eh salah,samjon maksudna) kenapa lagi tiba2 jadi puitis gitu?haiaiaiaiaiaia…
    (gum samchan…eh salah…samjon itu = uncle bear = om bruang ^o^)

    Comment by tata — March 16, 2007 @ 11:45 am

  8. huahuahauhauhauahh…

    I’m highly contagious!

    Comment by khopuki — March 16, 2007 @ 10:18 pm

  9. i don’t give a damn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Comment by unknown — August 6, 2007 @ 8:11 pm

  10. wahahaha… mas/mba, kalo mau comment, ya yang gentle dikit dong.

    mau suka atau don’t give a damn, kasih tau kek namanya siapa hahahaha…

    Comment by khopuki — August 6, 2007 @ 8:32 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.