Di depan rumah Bettina, ada kaya ladang kecil gitu. Kebun depan lah, cuma isinya rumput semua. Di pinggir-pinggirnya, ada beberapa rumpun mawar yang mekar cakep banget… Apalagi rumpun mawar putihnya. Kalo lagi berbunga semua, wuiihhh…
Tapi anehnya, yang narik perhatian gw itu bukan mawar yang bagus-bagus itu. Justru bunga-bunga kecil kuning yang tumbuh di sela-sela rumput pendek. Dibilang tinggi, ngga. Dibilang pendek, ngga juga. Ngga cukup besar buat diperhatiin, tapi toh itu ada di sana. Makanya pas ngeliat bunga itu, gw jadi inget peribahasa di komik yang pernah gw baca, bunga inipun ada di ladang… Waktu mau gw bikinin postnya di sini, gw pengen foto, cuma pagi-pagi gw males keluar hehehe, dingin… Gw pikir ntar aja pas pulang kuliah gw foto sebentar…
Ternyata, saat gw pulang di ladang gw udah ga ada bunga-bunga itu lagi! Hilang semua… Gw bingung banget, kenapa bisa hilang?
Setelah gw liat dengan lebih seksama lagi, semua bunga kuningnya berubah jadi dandelion! Dan kalo angin lewat, kadang ada bongkahan dandelion yang terbang, indah banget. Keliatannya kaya udah ga ada bunga lagi, tapi sebenernya kaya ladang bunga transparan, dan pokoknya ada keindahannya sendiri deh, dibanding mawar yang di pinggir itu. Satu ladang kecil, di sore hari dengan lighting alam yang keren banget, dengan dandelion yang terbang-terbang ditiup angin, kaya nari deh. Dan cuma gw sendiri yang ngerti keindahan itu, karena yang lain pas gw bilang ada dandelion, kaya bilang “Jelek ah! Bagusan mawarnya…”
Gw bikinin ceritanya ya…
Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Di ladang ini, banyak kuncup sepertiku, namun entah kenapa semuanya terlihat lebih bagus daripada diriku. Di kejauhan sana, terlihat sekelompok mawar yang berada di tempat yang lebih tinggi. Tak tersentuh, namun mencolok dengan segala keindahan dan keangkuhannya. Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh manusia sang empunya ladang. Ladang, dunia kecil miliknya.
Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Aku bukan mawar. Dan kadang ada saat-saat dimana aku berpikir lebih baik aku tak mekar. Sakit sekali, dan capai sekali. Banyak yang harus kukorbankan untuk mekar.
Tapi waktu berjalan terus, dan aku tau biar bagaimanapun aku akan mati kalau aku menolak mekar. Aku, kuncup kecil yang tak diperhatikan oleh siapapun. Tapi aku ingin mekar. Karena aku hidup. Karena aku ada. Dan saat aku mekar, aku akan mekar sedemikian rupa. Aku akan mekar dengan indah. Walaupun tak ada yang melihatku, aku tetap akan mekar dengan indah.
Aku, bunga kuning kecil yang baru mekar. Dengan sepi menunggu embun pagi turun dengan lembutnya dari langit, selimuti hati yang sepi. Aku ingin mereguk semua kekuatan yang bisa kudapat. Dan aku akan berusaha untuk tumbuh lebih tinggi lagi, lebih dekat lagi ke matahari. Dan aku akan berusaha untuk tumbuh dengan indah, karena mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mekar. Aku, bunga kuning kecil yang baru mekar, tak terlihat oleh siapapun.
Ada lebah datang. Kupu-kupu datang. Dalam pengembaraan mereka yang panjang dan jauh, tiba-tiba mereka sadar bahwa aku ada di sana. Letih, kutawarkan tempat berteduh. Kalau aku mau mekar dengan indah, aku harus kuat. Dan untuk diperhatikan, aku harus memperhatikan. Mungkin suatu saat, saat aku sudah cukup mencintai, akupun akan dilihat dan dicintai.
“Bunga kecil, baik perjuanganmu ini. Mekarlah dengan indah…”
Dan dalam sekejap mereka merombak susunan hatiku. Aku merasa, aku akan mekar dengan indah. Inilah waktuku. Sudah hampir tiba saatnya. Dengan anggun aku biarkan diriku menari ditiup angin, berubah, berubah, dan berubah… Membalut diriku sendiri dengan gaun putih, seputih bulan terang dalam malam-malamku.
Aku, bunga bulat berwarna putih. Aku semakin tak terlihat, namun percayalah aku masih ada di ladang, tumbuh menjadi lebih indah setiap hari. Dan akan ada saatnya angin bertiup, dan semua bagian hatiku yang mekar dengan pedihnya akan tertiup, menyebar ke seluruh ladang… Jatuh ke tempat-tempat yang mungkin bahkan tak pernah disadari.
Dan akan ada puluhan kuncup baru milikku. Saat waktunya mereka mekar, mereka akan mekar dengan indah. Dan menyebar lagi ke seluruh ladang milik sang manusia. Dan akan ada ratusan kuncup baru milikku. Ribuan. Jutaan…
Namun masih tak ada yang melihatku. Tak apa. Aku sudah sakit sebegitu rupa, sehingga tak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi yang harus kukorbankan. Aku mulai bahagia, hidup dan berkembang menjadi bunga kecil yang terindah, seindah yang aku bisa. Dan aku akan terus menghias ladang manusia, membuatnya bahagia tanpa dia sadar mengapa. Tak apa.
Karena akupun ada di ladang. Akupun hidup. Dan aku hanya ingin diriku tau aku indah. Akupun bisa mekar dengan indah, bukan untuk dilihat oleh manusia tapi karena aku bisa. Dan ladang manusia itu akan penuh oleh bunga-bunga dari serpihan hatiku…
Dan saat dia berjalan pulang ke rumahnya, dia akan melewati ladang ini. Mungkin dia akan merasa ladangnya indah tanpa tau kenapa. Tapi mungkin suatu hari, mungkin dia akan sadar aku ada. Bahwa aku, bunga inipun tumbuh di ladang. Dan bila saatnya aku mekar, aku akan mekar dengan indah, Tak peduli apakah dia akan membawaku pulang, merawatku dengan baik untuk membuat rumahnya indah dan cerah… atau apakah dia akan membiarkanku menghias ladangnya saja, melewati malam sambil menunggu embun menetes. Aku akan mekar.
Bunga inipun ada di ladang. Dan saat waktunya mekar, dia akan mekar dengan indah walaupun mungkin tak akan ada yang melihat. Bersyukurlah orang yang mengerti keindahan tarian dari serpihan-serpihan bunga dandelion kecil. Perlahan mengendarai angin, diterangi sinar lembayung senja… berusaha tumbuh dengan indah.
Meski untuk sejenak, kau sedang menikmati pertunjukkan terindah, di panggung yang paling indah. Membawa harapan dan impian, hari inipun bunga ini tumbuh di ladang. Bunga inipun tumbuh di ladang.